Oleh Joannes Simin
Apa yang
dimaksudkan oleh Roh Kudus ketika Dia mengilhami Rasul Paulus dalam menuliskan
frasa "damai dan aman" dalam 1 Tes.
5:3?
"3 Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman, maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti kesakitan seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin- mereka pasti tidak akan luput" (1
Tes. 5:3)
Ketika Allah mengatakan sesuatu, kita tahu bahwa Roh Allah benar-benar akan menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya. Ketika manusia secara kolektif 'mengatakan' (menggenapi agenda sedunia) sesuatu, kita tahu itu berkaitan dengan 'misi' tertentu dari umat manusia di bumi melalui suatu badan pemerintahan dunia. Rasul Paulus, rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi, memberikan salah satu petunjuk untuk mengenali sejauh mana kita tercakup dalam kurun waktu Hari Tuhan. Dia menulis kepada jemaat Tesalonika frasa profetis "damai dan aman" [1] yang menyingkapkan prinsip yang disepakati di masa depan dalam memelihara perdamaian di bumi. Dengan kata lain, Rasul Paulus mengatakan bahwa sementara manusia berjuang demi perdamaian di bumi melalui prinsip "damai dan aman", tiba-tiba Kristus akan datang kembali seperti pencuri di malam hari. "damai dan aman" menyuarakan tujuan utama dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan hal itu dicantumkan dalam Pasal 1, Bab 1 dari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. [2]
"Pasal
1, Tujuan-Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah: 1. Untuk memelihara
perdamaian dan keamanan internasional, dan untuk mencapai tujuan itu: mengambil
tindakan-tindakan bersama yang efektif guna pencegahan dan penghentian
ancaman-ancaman terhadap perdamaian, dan untuk menekan tindakan-tindakan agresi
atau pelanggaran-pelanggaran perdamaian lainnya, serta menyelesaikan dengan
cara-cara damai, dan sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dan hukum
internasional, penyesuaian atau penyelesaian perselisihan-perselisihan atau
situasi-situasi internasional yang dapat menimbulkan pelanggaran perdamaian;
" [3]
Jadi, Pasal 1 Perserikatan Bangsa-Bangsa menentukan bahwa tujuan pembentukan badan pemerintahan Dunia tersebut adalah untuk memelihara "perdamaian dan keamanan" internasional. Pesan dalam 1 Tesalonika 5:1-3 ditulis oleh Rasul Paulus lebih dari 1.800 tahun sebelum pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1945 M. Dia menulis ini sebagai tanggapan atas kepercayaan keliru yang meluas di antara jemaat Tesalonika mengenai kedatangan apokaliptik Kristus pada masa-masa awal Gereja yang dianiaya tersebut. Rasul Paulus secara profetis mengungkapkan frasa "Damai dan Aman" yang memberikan tanda yang dapat dikenali, mengidentifikasi Prinsip dari badan pemerintahan dunia di masa depan (Perserikatan Bangsa-Bangsa), iaitu jangka waktu akan Kedatangan Kristus yang kedua kali akan terjadi.
Tentu saja, Rasul Paulus secara tidak langsung telah menyingkapkan prinsip utama dari badan pemerintahan dunia di masa depan, yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa. Surat Rasul Paulus menyampaikan―"Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, 2 karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. 3 Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman, maka kebinasaan datang atas mereka sekonyong-konyong, seperti kesakitan datang atas seorang wanita yang hamil, dan mereka pasti tidak akan luput. [4] Dengan demikian, Kedatangan Kristus yang Kedua Kali akan terjadi selama masa pemerintahan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu ketika manusia di bumi memelihara "perdamaian dan keamanan (keselamatan)", sesuai dengan frasa nubuat Rasul Paulus "Damai dan aman." Rasul Paulus memberi kita salah satu ‛Tanda yang dapat dibaca’ di bumi yang menunjuk pada Kedatangan Kristus yang Kedua Kali!
Kita sudah berada di tahun ke-81 di bawah tata kelola Perserikatan
Bangsa-Bangsa sejak pembentukannya pada tahun 1945 M. Suster Elena Aiello
bernubuat pada 16 April 1954 M, "Ketahuilah
anak-Ku, lihatlah betapa dosa-dosa manusia telah merendahkan Aku. Dunia telah
merendahkan dirinya dalam kebobrokan yang meluap-luap.
Pemerintahan-pemerintahan manusia telah bangkit bagaikan iblis yang menjelma,
dan, sementara mereka berbicara tentang 'perdamaian', mereka bersiap untuk
perang dengan peralatan yang paling menghancurkan untuk membinasakan umat
manusia dan bangsa-bangsa. Manusia telah menjadi tidak berterima kasih kepada
Hati-Ku Yang Mahakudus, dan dengan menyalahgunakan Kerahiman-Ku, telah mengubah
bumi menjadi arena kejahatan." [5]
Rujukan
[1] Tesalonika 5: 1-3. The Holy Bible, New
International Version. BibleGateway. Biblica Inc., 05 Mei 2014. http://www.biblegateway.com/passage/?search=1thes.5&version=NIV.
[2] Pasal 1. Bab 1: Tujuan dan Prinsip-Prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa. 10 April 2014 http://www.un.org/en/documents/charter/chapter1.shtml.
[3] Ibid. [4] 1 Tesalonika 5: 1-3. The Holy
Bible, New International Version. BibleGateway. Biblica Inc., 05 Mei 2014. http://www.biblegateway.com/passage/?search=1thes.5&version=NIV.
[5] Nubuat-Nubuat Suster Elena Aiello. Mystic
of the Church. 08 April 2014. http://www.mysticsofthechurch.com/2011/09/blessed-elena-aiello-mystic-stigmatic.html