Khamis, 26 Mac 2026

Luka-luka pada tubuh roh dan pakaian rohaniah

 

Sebelum memakan buah pohon terlarang, Adam hidup tanpa sebarang kebimbangan dan takut. Sejurus setelah memakan buah Pohon terlarang (the forbidden fruits of the tree of Knowledge) itu, mereka mendengar bunyi-bunyi Tuhan, seolah-olah (Dia-Roh Tuhan) sedang berjalan di Taman, dan di dalam keadaan khuatir, Adam dan Eve, disergah dengan fikiran hukuman Kekudusan Tuhan Yang Menghanguskan, bahawasanya Roh Tuhan akan ‘menghangusi’ atau menghukum mereka, apabila mereka ditemukan kelak. Lalu mereka bersembunyi di balik pohon-pohon. Tuhan sebenarnya omniscience (Maha mengetahui), dan justeru itu, Dia mengetahui di mana sahaja lokasi mereka berada, namun Ia sengaja memanggil-manggil ‘nama’ mereka, seolah-olah Tuhan itu, seperti manusia, dan seolah-olah Ia tidak mengetahui keberadaan mereka yang telah bersembunyi di balik pohon-pohon kayu. Kenapa Roh Tuhan beraksi seperti manusiawi ketika Ia berjalan bersama dengan moyang kita di Eden?

Hakikatnya, Tuhan selalu tahu ‘di mana’ sahaja kita berada dan ia sentiasa tahu status keberadaan kita, namun ia akan senantiasa sudi ‘berjalan’ ‘dengan bunyi-bunyi’ yang dapat ‘ditanggapi’ oleh kognitif intelek manusiawi, bahawasanya, Ia menuju ke arah kita, seolah-olah ‘berjalan’ bersama-sama manusia, meskipun manusia itu dalam keadaan yang senantiasa ‘terluka’ atau berdosa. Ia, dari semula, iaitu sejak pada hari Sabbathical Rest (hari ke-tujuh dalam Creations), telahpun menetapkan dan menganugerahkan ‘the Way’ kepada kita, supaya kita sebagai manusia yang telah jatuh ke dalam takluk kuasa dosa, dapat ‘berjalan’ semula bersama-sama denganNya dan menjadi the followers of the Way. Kelak Yesus datang dan berkata, “Akulah Jalan...” Yoh.14: 6

Biarpun manusia itu sebenarnya ‘selalu berdosa,’ namun Tuhan menurut ‘kerelaanNya’ sudi untuk ‘berjalan’ bersama-sama dengan umat manusia keturunan Adam yang takluk kepada kuasa sengat maut. Meskipun manusia pertama itu telah jatuh ke dalam takluk kekuasaan ‘dosa/luka-luka tubuh roh,’ Ia masih sudi bergerak berjalan menuju ke arah Adam, seolah-olah, seperti ‘manusia’ yang berjalan di taman Eden untuk menganugerahkan ‘pakaian’ menutupi ketelanjangan dan juga untuk  tujuan ‘penyembuhan luka’ “21 dan Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit Binatang untuk manusia dan isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka”  Kejadian 3: 21.  Kendatipun,  manusia tidak dapat lagi 'berjalan' bersama-sama dengan Tuhan di Eden, namun hakikatnya, Tuhan telahpun mengujudkan 'The Way' di bumi, iaitu penggenapan kepada ajaran Sabbathical Rest: Firman menjadi Anak Manusia. 

Dari semula, Tuhan telah mengajarkan bahawa Dressing atau pembalut luka-luka pada tubuh rohaniah manusia mestilah senantiasa diperbuat dari Firman Allah, supaya ‘luka-luka’ pada tubuh rohaniah kita dapat disembuhkan! Jika dressing itu adalah dari ‘usaha’ kepandaian intelek manusiawi, maka sudah pasti ‘luka-luka pada ‘tubuh rohaniah’ tidak akan sembuh. Malah, usaha dressing dengan segala kepandaian manusiawi untuk penyembuhan akan menjadi kesia-siaan belaka. Pemberitaan dalam Kitab Suci Kejadian mengenai dengan alkisah Adam dan Eve yang pernah menyemat pakaian dari daun-daun pohon ara untuk ‘menutupi’ ketelanjangan mereka, adalah suatu typology 1 klasik,  perihal kesembuhan oleh Kuasa Kristus. Pakaian Kudus harus dari pihak Allah sendiri untuk menutupi kesalahan/dosa-dosa, dan juga sebagai ‘dressing’ kepada  luka-luka, supaya kesembuhan luka-luka tubuh roh bisa memberikan harapan kebangkitan dari kuburan orang mati atau seringkasnya disebut ‘Keselamatan’ tubuh rohaniah. 

Tubuh rohaniah tanpa kuasa penyembuhan luka-luka rohaniah akan menuju kebinasaan. Ia menuntut kuasa kebangkitan Yeshua untuk dibangkitkan dari kuburan orang mati. Kuasa kebangkitan Yeshua adalah sebenarnya kuasa kesembuhan Ilahi yang menganugerahkan kesembuhan total kepada luka-luka pada tubuh roh manusia. Namun, ‘dressing’ dari usaha manusiawi sendiri tidak akan dapat menyembuhkan luka-luka pada tubuh rohaniah kita, sebagaimana peristiwa catatan Kitab Kejadian, di mana ‘daun-daun pohon ara’ itu tidak mampu untuk menjadi dressings kesembuhan ‘luka-luka’ tubuh roh Adam dan Eve; neither human strivings nor human intellectual capacities are able to provide spiritual dressings/coverings for the nakedness of the wounded spirits of the mortal men. Iman Penyembuhan (faith healing) mestilah senantiasa berdasarkan kepada Firman Allah! Justeru itu, sang Pemazmur dalam Mazmur 107: 20 bernyanyi, “…disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkanNya mereka, dan diluputkanNya mereka dari liang kubur.”

Penyembuhan luka-luka mestilah ditunjangi selalu oleh Serapah Ilahi iaitu Firman Allah! Akhirnya, dalam pengujudan Perjanjian Baru,  Firman Allah itu telah menjelma menjadi Anak Manusia (Yohanes 1: 14), sehingga Perdamaian, Penebusan dan Penyelamatan yang disaksikan dengan Air, Darah, dan dengan Roh, melalui tulisan dalam Kitab-Kitab Taurat, Kitab Suci para nabi nabi, dan juga Kitab Mazmur telah digenapi dalam ‘satu’ kematian Yesus di atas Altar/ Kayu Salib.  Yesus telah menjadi Jalan keselamatan/Jalan Kesembuhan luka-luka, lalu ia pernah berkata “Akulah Jalan…” (Yoh. 14: 6).

Hairan Sekali! Kenapa Roh Tuhan tidak memberikan pakaian yang diperbuat dari kain kapas (cotton) atau dari kain sutera kepada Adam dan isterinya? Bukankah dressing kain kapas atau silk itu lebih bersih dari kulit binatang ? Namun, yang pasti pakaian, dari kulit binatang, sebenarnya, membawa maksud rohaniah yang dalam, bahawasanya penyembuhan ‘luka-luka pada tubuh roh’ kita, memerlukan dressing dari Serapah Ilahi (‘Firman’) yang melibatkan curahan ‘darah’ altar Janji Perdamaian oleh sifatNya yang disebut the Great Mercy of Yahweh. Frasa “Kulit Binatang” itu sendiri menyembunyikan kebenaran mengenai Messianic Redemption yang akhirnya akan dapat menyelesaikan dosa-dosa umat manusia atau seringkasnya ‘menebus’ dosa-dosa manusia!

Justeru itulah, ia menjelaskan kenapa Tuhan mengenakan pakaian yang diperbuat dari kulit binatang kepada Adam dan Eve. Sekalipun Tuhan sebenarnya telah ‘menyelesaikan pekerjaanNya,’  sejak dunia dijadikan, kerana ada tertulis, "Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.” (TB Kej 2:1-3). Frasa nubuat ‘menyelesaikan pekerjaanNya,’ sebenarnya merujuk kepada Upacara Serapah altar Ilahi tentang namaNya di atas Altar di Sorga yang diupacarakan oleh Imam-Raja Melkisedek.

Pada hari itulah ia ‘berhenti’ pada hari Sabbath; Ia telah mengupacara namaNya, the Great Mercy of Yahweh (namaNya Kasih Setia), bagi persediaan untuk tujuan penyelamatan umat manusia sejagat, jika sekiranya umat manusia itu kelak akan jatuh.  Ia ‘berhenti’ pada hari Sabbath, bukan kerana Tuhan itu ‘kelelahan,’ kerana Roh Tuhan sebenarnya tidak akan pernah lelah, namun perkataan ‘berhenti,’ menunjuk kepada ‘karya’ atau ‘nama’ Raja Damai yang akan menganugerah ‘perhentian’ atau perdamaian antara Tuhan dan umat manusia kelak, supaya manusia  dapat ‘berhenti’ atau terlepas dari ‘lelah’ dosa-dosa.

Yeshua berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu (‘lelah’) dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan (‘Rest’) kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (‘Rest’). Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:28-30). Altar yang ‘SUDAH SELESAI’ diupacara menurut ketentuan Sabbath Rest memberikan ‘REST’ kepada roh manusia yang memelihara hari Sabbath atau mengenali arti hukum Taurat yang ke-empat “Keep the Sabbath.” Mengenepikan ibadah hari Sabbath seringkasnya berarti berhenti percaya kepada namaNya –‘Kasih Setia’/the Unconditional Love of Yahweh.

Akhirnya dalam era pengenapan semua Taurat, pengenapan semua nubuat nabi-nabi dalam kitab-kitab suci para nabi-nabi, dan juga pengenapan semua lirik-lirik dalam Kitab Suci Mazmur, berhubung dengan Penebusan umat manusia, maka Firman Allah benar-benar telah berjalan bergerak ‘bergaul karib,’ dengan umat manusia, sebagai Almasih yang ditunggu-tunggu, ia menjelmakan diriNya, Anak Manusia, Yesus Kristus, Anak Tuhan Yang Mahatinggi—Firman telah menjadi Anak Manusia.

Ia menyempurnakan nubuat Sumpahan Perjanjian Perdamaian (Yesaya 54) yang baharu dengan curahan kesaksian ‘darah’ Domba Paskah Tuhan! Dikatakan bahawa Kebenaran Tuhan mengenai dengan Urusan Perdamaian, Penebusan dan Keselamatan itu menuntut kesaksian, dan kesaksian kebenaran di bumi disaksikan dengan Darah, Air dan Roh, dan ketiganya adalah satu! What is truth? Maka jawapannya ialah Yeshua Kristus, kerana Yesus menggenapi kriteria perihal Kesaksian dengan Air, dengan Darah dan dengan Darah (Lukas 24: 44). Ia pernah berkata kepada mereka [murid-muridNya] : “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” (Lukas 24:44)

Dia pernah bersabda di Eden kepada nenek moyang umat manusia: “Dimana engkau?” PertanyaanNya yang berbunyi “…di mana engkau?”… senantiasa mengingatkan kita untuk ‘melihat’ dan ‘mengakui’ penderitaan kita, bahawa-sanya tiada siapapun yang dapat menyembuhkan ‘luka-luka’ pada tubuh rohaniah kita, kecuali oleh karya ‘nama’ Tuhan ‘the Great Mercy of Yahweh.’  ‘Nama’ Bapa itu telah diberikan kepada AnakNya-Yashua Kristos! Hanya seorang sahaja manusia yang pernah wujud di bumi dan telah diberikan ‘nama’ Tuhan Bapa Yahweh, iaitu Yeshua Kristus, kerana dia adalah Tuhan Kristus. “…namaNya ialah Firman Allah” (Wahyu 19:13). Maksudnya, pekerjaan atau karya Kristus Yeshua adalah 100 % Ilahi.

11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. 12 Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. 26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yohanes 17:11-12, 26)


PENGAJARAN TENTANG ‘NAMA’ TUHAN DAN NAMA PARA MALAIKAT (NETWORKS KEPADA ‘NAMA’ TUHAN)

Inilah rahsia tentang ‘nama’ Tuhan, bahawasanya, setiap ‘nama’ Tuhan sentiasa terhubung dengan networks atau spiritual links dengan seribu kali dan beribu-ribu kali para malaikat yang melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa yang berdiri di hadapan-Nya. Justeru itu, kehendak Tuhan bukanlah dilaksanakan oleh Tuhan sendiri, tetapi bersama-sama dengan jumlah networks para malaikat yang gagah perkasa yang sangat banyak (innumerable). “Pujilah Tuhan, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan ‘suara’ firman-Nya.” (TB Mazmur 103: 20). 

‘Suara’ Firman maksudnya bahawa Firman Allah itu hidup dan roh; ia adalah peribadi Roh Allah Pencipta langit dan Bumi dan Bapa kepada segala roh. Urusan percaya kepada 'nama' Tuhan bukanlah sekadar menghafal kitab-kitab suci semata-mata, melainkan berurusan dengan ‘Suara’ Peribadi Roh Tuhan.  Firman yang tertulis pada kulit binatang, batu marble, logam-logam, atau pada kertas-kertas kitab-kitab adalah sebenarnya, usaha manusia untuk menyimpan rekod/maklumat yang diterima dari alam rohaniah. Dan maklumat yang disimpan oleh manusia itu adalah senantiasa tertakluk kepada kelemahan, kecacatan, kemusnahan kerana bencana dan malah isi kandungannya mudah dimanupulasi oleh manusia untuk kepentingan manusia itu sendiri. 

Pastinya, tiada siapapun yang dapat bertahan ketika mendengar ‘Suara’ Roh Tuhan, kecuali kita dibaluti dengan great MercyNya terlebih dahulu; siapakah yang dapat bertahan berdiri dalam hadirat Roh Tuhan dengan SuaraNya sekali? “1 Sungguh, oleh karena itu hatiku berdebar-debar dan melonjak dari tempatnya. 2 Dengar, dengarlah gegap gempita SuaraNya, guruh yang keluar dari dalam mulutNya. 3 Ia melepaskannya ke seluruh kolong langit, dan juga kilat petirNya ke ujung-ujung bumi. 4 kemudian suaraNya menderu, Ia mengguntur dengan SuaraNya yang megah; Ia tidak menahan kilat petir, bila suaraNya kedengaran. 5 Allah mengguntur dengan SuaraNya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahun kita; (Ayub 37: 1- 5)

 

9 Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar; 10 suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab. 13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti Anak Manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. 14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah. (TB Dan 7:9-10,13-14)

5 Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?” 6 Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.” Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: “Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi BADAI dan pelayan-pelayan-Nya menjadi NYALA API.” (Ibrani 1:5-7)

Para malaikat diciptakan oleh Tuhan pada hari pertama dalam turutan ‘nubuat’ kisah Penciptaan dalam Kitab Suci Kejadian. Among the luminaries of heavens created by God on the first day of Creations, were the stars of heavens; formerly, all of them were the bright ‘stars’ in heavens, as according to their own brightness/glories! Eventually, one third of them rebelled against God, and thus, they became the ‘fallen stars’ or fallen angels!  “…some of them became the fallen angels.” Di antara mahluk ‘terang’ yang diciptakan oleh Tuhan pada hari yang pertama adalah ‘para malaikat’; ada yang telah ditakdirkan ‘terang’ dan ada juga yang telah diketahui akan menjadi ‘gelap,’ maka akhirnya dipisahkan oleh Tuhan akan para malaikat ‘gelap’ itu dari para malaikat ‘terang.’ Malaikat gelap itu adalah merujuk kepada frasa nubuat/profetik sebagai bintang-bintang yang berjatuhan! Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. (Kejadian 1:3-5).

Selepas hari ke-tujuh, manusia yang dicipta pada hari ke-enam telah ‘jatuh’, kerana bujukan Iblis, lalu seluruh umat manusia yang lahir dari first ancestors itu telah tertakluk kepada kuasa dosa, dan kuasa dosa itu sendiri itu telah ‘menyengat’ seluruh keturunan umat manusia; dosa-dosa telah menjadi ‘sengat maut’ atau ‘melukai tubuh roh’ manusia itu sendiri, dan manusia tidak mempunyai sumber atau kepandaian untuk menyembuhkan luka-luka tubuh rohaniah manusia yang disebabkan oleh dosa-dosa. Manusia tiada sumber mahupun pengetahuan atau hikmat untuk menyembuhkan ‘luka-luka’ pada tubuh roh atau tubuh daging, justeru itu, manusia tidak dapat mengalahkan ‘maut.’  Semua orang harus kembali menjadi debu; dari debu kembali menjadi debu! Hanya kepandaian dan Hikmat Tuhan sahaja yang dapat mengatasi kuasa ‘maut’ yang mengenggam dan menakluki seluruh umat manusia itu!

Luka-luka pada tubuh roh yang setiap hari bertambah dan tidak sembuh akan menjadikan tubuh roh manusia itu ‘letih-lesu’, kemudian ‘berbeban berat,’ dan akhirnya ‘mati’ di dalam ‘kuburan orang mati’ di api pensucian/purgatory.   Hanya kuasa kebangkitan Yashua sahaja yang dapat membangkitkan roh-roh yang ‘mati’ di purgatory, supaya ia dapat dikembalikan perjalanannya menuju ke Sorga, jika tidak roh mereka akan selamanya ke eternal damnation in hell.

Roh manusia itu sebenarnya tidak ‘mati’, namun ia dikatakan ‘mati’ kerana tiada kesembuhan ‘luka-luka’ untuk memungkinkan ia bisa bertahan melihat wajah Tuhan Yang menghanguskan semarak api kekudusanNya. Jika ia tidak bertahan dalam hadirat Roh Tuhan, maka tidak hairan mereka yang tidak percaya akan dihimpit jauh ke neraka—jauh dari wajah Tuhan, supaya ia tidak hilang (disappearing into nothingness) dalam hadirat Tuhan yang Maha-Kudus! Untuk rencana penyembuhan ‘luka-luka’ akibat dosa, maka Tuhan dari semula selepas Creations, iaitu pada Sabbathical Rest, hari ke tujuh, telah mengupacara namaNya, iaitu yang bernama ‘KASIH SETIA’ untuk menangani masalah ‘kematian’ rohaniah yang menimpa tubuh rohaniah manusia akibat dari luka-luka (‘dosa-dosa’) pada tubuh roh.

Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah ‘menyelesaikan pekerjaan’ yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah **memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia ‘berhenti’ dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. (TB Kej 2:1-3). (Nota# Perkataan **memberkati itu merujuk kepada pengaturan ilahi atau pengurusan-pentadbiran ke atas para malaikat selepas status Upacara Altar Melkisedek menjadi ‘sudah selesai.’ ;  Status ‘SUDAH SELESAI’ berarti pengaliran anugerah berkat Perdamaian, berkat Penebusan, dan berkat keselamatan atau semua berkat-berkat Sorga untuk tujuan Penyembuhan ‘luka-luka’ pada tubuh roh manusia).



Nota kaki

1Typology ialah cabang pengajian Teologi/Alkitab dengan melihat peristiwa-peristiwa, orang, benda, institusi dalam Perjanjian Lama sebagai ‘bayangan’ (‘type’) yang menunjuk kepada kegenapan dalam Perjanjian Baru, iaitu Yesus Kristos